<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Koleksi Skripsi</title>
<link href="https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7102" rel="alternate"/>
<subtitle>Perpustakaan Jurusan  Sarjana Farmasi Repository</subtitle>
<id>https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7102</id>
<updated>2026-04-25T15:28:42Z</updated>
<dc:date>2026-04-25T15:28:42Z</dc:date>
<entry>
<title>Hubungan Terapi Pengobatan Pasien Rawat Inap Diare Anak Dengan Analisis Biaya di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2024</title>
<link href="https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7228" rel="alternate"/>
<author>
<name>Adam Nur Rasyid</name>
</author>
<author>
<name>Rosiana</name>
</author>
<id>https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7228</id>
<updated>2025-10-20T08:08:53Z</updated>
<published>2025-10-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Terapi Pengobatan Pasien Rawat Inap Diare Anak Dengan Analisis Biaya di RS Sentra Medika Cibinong Tahun 2024
Adam Nur Rasyid; Rosiana
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak,
khususnya di negara berkembang, yang memerlukan penanganan tepat dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan gambaran pengobatan pasien
diare anak rawat inap di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2024. Desain penelitian
menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan pengambilan data sekunder
dari rekam medis dan billing pasien. Sampel penelitian mencakup seluruh pasien
anak yang didiagnosis diare dan menjalani perawatan inap pada periode Januari–
Desember 2024, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis secara univariat
untuk distribusi karakteristik pasien, jenis terapi, dan komponen biaya, serta
bivariat untuk melihat hubungan antara jenis terapi dengan total biaya pengobatan.
Hasil penelitian menunjukkan variasi jenis terapi meliputi terapi farmakologis
(antibiotik, probiotik, suplemen) dan non-farmakologis (rehidrasi oral/intravena).
Komponen biaya terbesar berasal dari biaya obat dan rawat inap. Analisis bivariat
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis terapi tertentu dengan total
biaya pengobatan (p&lt;0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemilihan
terapi yang tepat tidak hanya berpengaruh terhadap efektivitas klinis, tetapi juga
dapat mempengaruhi efisiensi biaya, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam
kebijakan pengobatan rasional di rumah sakit.
</summary>
<dc:date>2025-10-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efektivitas Biaya Pengobatan Pasien Demam Tifoid Rawat Inap BPJS di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024</title>
<link href="https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7227" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fadly Agung Fatah</name>
</author>
<author>
<name>Rosiana</name>
</author>
<id>https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7227</id>
<updated>2025-10-20T08:08:42Z</updated>
<published>2025-10-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Biaya Pengobatan Pasien Demam Tifoid Rawat Inap BPJS di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024
Fadly Agung Fatah; Rosiana
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di daerah dengan sanitasi yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas klinis dan efisiensi biaya pengobatan demam tifoid menggunakan terapi tunggal ceftriaxon, cefixime, serta terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan analisis cost-effectiveness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas pengobatan pada kelompok terapi tunggal adalah sebesar 66,66% untuk ceftriaxon dan 66,66% untuk cefixime, sedangkan terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime pada kelompok B menunjukkan efektivitas 100%. Rata-rata total biaya pengobatan yang dikeluarkan untuk masing-masing terapi adalah Rp4.721.391 (ceftriaxon), Rp5.303.698 (cefixime), dan Rp4.599.894 (ceftriaxon dan cefixime). Analisis biaya-efektivitas rata-rata (Average Cost-Effectiveness Ratio/ACER) menunjukkan nilai sebesar Rp70.827 untuk ceftriaxon, Rp79.563 untuk cefixime, dan Rp45.998 untuk terapi kombinasi. Sementara itu, nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) untuk peralihan terapi dari ceftriaxone tunggal ke cefixime tunggal adalah Rp582.307. Berdasarkan hasil tersebut, terapi kombinasi ceftriaxon dan cefixime memberikan efektivitas klinis tertinggi dengan nilai efisiensi biaya yang paling optimal dibandingkan terapi tunggal. Oleh karena itu, terapi kombinasi dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih cost-effective dalam penanganan pasien demam tifoid.
</summary>
<dc:date>2025-10-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pneumonia Dewasa di Instalasi Rawat Inap RS Sentra Medika Cikarang 2024</title>
<link href="https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7226" rel="alternate"/>
<author>
<name>Napsiah Atika Sari</name>
</author>
<author>
<name>Rosiana</name>
</author>
<id>https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7226</id>
<updated>2025-10-20T08:08:27Z</updated>
<published>2025-10-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Pneumonia Dewasa di Instalasi Rawat Inap RS Sentra Medika Cikarang 2024
Napsiah Atika Sari; Rosiana
Latar Belakang : Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahun, dengan 9,2 juta kasus secara global. Penyakit ini menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi, dengan 92% kasus berasal dari Asia dan Afrika. Tujuan penelitian : Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik pasien dewasa pneumonia dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik di instalasi rawat inap RS Sentra Medika Cikarang tahun 2024. Metode : Penelitian ini merupakan studi non-eksperimental dengan desain deskriptif yang menggunakan pendekatan retrospektif melalui data rekam medis. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil : Berdasarkan data rekam medis pasien pneumonia dewasa yang memenuhi kriteria inklusi di RS Sentra Medika Cikarang, mayoritas pasien berusia 56–65 tahun (69%) dan didominasi oleh laki-laki (54%). Penyakit penyerta terbanyak adalah TB Paru (23%). Terapi antibiotik yang paling banyak digunakan adalah terapi tunggal Levofloxacin (38%). Evaluasi dengan Metode Gyssens menunjukkan bahwa 77% penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional. Kesimpulan : Evaluasi menggunakan Metode Gyssens di RS Sentra Medika Cikarang menunjukkan bahwa mayoritas penggunaan antibiotik tergolong tidak rasional.
</summary>
<dc:date>2025-10-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Minum Obat dan Luaran Klinis Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi</title>
<link href="https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7225" rel="alternate"/>
<author>
<name>Intan Auliya Putri</name>
</author>
<author>
<name>Marselina</name>
</author>
<id>https://repository.medikasuherman.ac.id/xmlui/handle/123456789/7225</id>
<updated>2025-10-20T08:08:16Z</updated>
<published>2025-10-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Minum Obat dan Luaran Klinis Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi
Intan Auliya Putri; Marselina
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, khususnya di wilayah industri seperti Kabupaten Bekasi. Pengetahuan pasien terhadap penyakit hipertensi memengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan dan keberhasilan terapi yang diukur melalui luaran klinis berupa ketercapaian tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat dan luaran klinis pada pasien hipertensi di Puskesmas Setu 1 Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 91 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner HK-LS untuk menilai pengetahuan, MMAS-8 untuk kepatuhan, serta data rekam medis untuk luaran klinis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p = 0,009) dan luaran klinis tekanan darah (p = 0,003). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien, maka semakin tinggi pula kepatuhan terhadap pengobatan dan keberhasilan pencapaian tekanan darah sesuai target.
</summary>
<dc:date>2025-10-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
